Rabu, 07 Maret 2018

LAPORAN PRAKTIKUM GENETIKA PERSILANGAN MANDIRI


LAPORAN PRAKTIKUM GENETIKA
PERSILANGAN MANDIRI






Di susun oleh :
Nurdiana Ismawati
1601070019

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO
2017
12 Desember 2017

A.    JUDUL : PERSILANGAN MANDIRI
B.     TUJUAN
1.      Untuk mengetahui cara menyilangkan Drosophila melanogaster
2.      Untuk menebak jenis  persilangan pada Drosophila melanogaster
3.      Untuk mengetahui hukum yang berlaku pada persilangan drosophila melanogaster sepia dan normal
C.    DASAR TEORI
Penurunan sifat atau hereditas paertama kali di populerkan oleh George Mandel atau yang biasa disebut bapak genetika. Pada tahun 1857 Mendel melakukaneksperimen pertamnaya menggunaka tanaman ercis dan berlangsung sampai tahun 1865. Hasil eksperimen tersebut kemudian di tertbitkan dalam “ Proceedings of the Burn Society for Natural Science “ ( Tjan Kiauw, 1991 ). Percobaan yang dilakukan mendel menghasilkan dua hukum yaitu hukum Mendel I dan hukum Mendel II.
Mendel melakukan percobaan  persilangan monohybrid atau persilangan satu sifat beda dengan menggunakan tanaman galur murni, yaitu jenis dari satu generasi berikutnya dengan menghasilkan sifat yang sama               ( Sisunandar, 2017 ). Tujuan dilakukannya persilangan monohybrid untuk mengetahui pola pewarisa  dari yang tua ke generasi berikutnya. Hukum persilangan monohybrid yaitu hukum Mendel I yang berbunyi “Pada pembentukan gamet, gen yang merupakan pasangan akan di segregasikan ke dalam 2 sel anak”. 
Persilangan Monohibrid adalah persilangan antara dua individu dari spesies sama sengan satu sifat beda (Wikipedia,2017). Persilangan monohybrid termasuk persilangan sederhan karena hanya memperhatikan satu tanda beda. Pada persilangan monohybrid dihasilkan perbandingan fenotip 3 : 1
      
Untuk menguji seberapa menyimpangnya hasil pengamatan yang dibandingkan dengan angka yang diharapkan secara hipotesis dilakukan dengan cara analisis chikuadrat. Dalam menggunakan analisis chi kuadrat terdapat dua unsur yaitu :
a.       Jumlah yang diamati (ft): nila atau jumlah didapat dari hasil pengamatan
b.      Jumlah yang diharapkan (Ft): nilai atau jumlahnya didapat dari teoritis
Nilai dari analisis chikuadrat selalu positif. Bentuk distribusinya tergantung pada derajat kebebasan dan digunakan untuk :
a.       Uji kecocokan
b.      Uji kebebasan
c.       Uji beberapa prposi
Rumus
 X2 = ∑ ( ft – Ft )2
                 Ft
ft : jumlah individu yang diamati
Ft : Jumlah individu yang diharapkan
Dalam genetika chikuadrat digunakan untuk menguji apakah data yang diperoleh dari suatu percobaan sesuai sengan rasio yang diharapkan atau tidak. Dalam suatu percobaan jarang sekali memperoleh hasil yang sesuai dengan yang diharapkan, hampir selalu ada penyimpangan. Penyimpangan yang relative kecil lebih dapat kurang diterima. Apabila penyimpangan sering terjadi dapat dikatakan semakin normal dan cenderung lebih dapat diterima.

D.    ALAT DAN BAHAN
a.      Alat
1.      Cawan petri
2.      Botol berpipet berisi eter
3.      Botol kultur dengan sumbu spons
4.      Botol eterisasi
5.      Kuas kecil
6.      Sterofom
7.      Botol pembunuh berisi detergen

b.      Bahan
1.      Drosophila melanogaster jantan sepia dan betina normal
2.      medium
E.     CARA KERJA
1.      Menyiapkan dua galur Drosophila melanogaster berfenotip jantan sepia dan normal
2.      Memisahkan 20  jantan sepia ke medium baru kemudian memasukan 20 betina virgin berfenotip normal ke medium tadi
3.      Setelah muncul pupa membunuh semua induknya
4.      Setelah pupa menetas mengambil minimal 20 pasang keturunan F1 dan memindahkannya ke medium baru
5.      Setelah muncul pupa kemudian keluarkan induk dan membunuhnya
6.      Menunggu pupa menetas menjadi lalat dewasa sebagai F2
7.      Setelah pupa menetas hitung semua F2 yang dihasilkan minimal 200 ekor
F.     HASIL PENGAMATAN
Parental           : ♂ sepia
  ♀ normal
            Persilangan Monohibrid
            Perbandingan analisis chukuadrat
            Ha : Data yang diperoleh mempunyai rasio normal : sepia = 3 : 1
            Ho : Data yang diperoleh tidak mempunyai rasio normal : sepia = 3 : 1

Normal
+
•
Sepia
se
se
Jumlah
Jumlah individu
Yang diamati (ft)

148
57
205
Jumlah individu
yang diharapkan (Ft)
3 x 205 = 153,75
4
1 x 205 = 51,25
4
205
           
            Derajat kebebasan (dk) = K – 1 = 2 – 1 = 1
            X2 = ∑ ( ft – Ft )2
                                Ft
                       = ( 148 – 153,75 )2 +  ( 57 – 51,25 )2
                            153,75                     51,25
                 = ( 5,75 )2 + ( 5,75 )2
                                153,75       51,25
                      = 33,06 + 33,06
        153,5       51,25
= 33,06 + 99,18
        153,75
= 0,86

Bagan persilangan
Parental           : ♀ normal       X         ♂ sepia

P                      : +                                se
                           +                               se

G                     : +                                se

F1                    : +
                          Se

P1                    : +                    X         +
                           Se                             se

F2                    : +                                3 +    = 3 normal
                          +                                    •

                           +
                           Se

                            +
                            Se               

                            Se                        1  se         = 1 sepia
                             Se                           se

Rasio fenotip normal: sepia = 3 : 1
Rasio genotip +  :  se
                        +     se

Kesimpulan :  jika dibandingkan dengan tabel chikuadrat maka hasil tersebut lebih kecil dibandingkan dengan tabel, sehinga menerima hipotesis nol pada taraf kepercayaan 95 % artinya persilangan tersebut sesuai hukum mendel


G.    PEMBAHASAN
Berdasarkan dari hasil persilangan telah diketahui bahwa persilangan antara jantan sepia dan betina normal adalah persilangan monohybrid. Dari persilangan tersebut dihasilkan keturunan pertama berfenotip normal semua dan keturunan kedua dihasilkan norma dan sepia dengan perbandingan 3: 1. Dimana perbandingan itu didapat dari jumlah individu yang diamati yaitu 205, 148 Drosophila melanogaster normal dan 27 drosophila sepia serta dengan jumlah individu yang diharapkan 153,75 untuk fenotip normal dan 51,25 untuk fenotip sepia. Kemudian dari data tersebut didapatkan analisis chikuadrat 0,86 dengan derajat kebebasan 1. Jika dibandingkan dibandingkan dengan analisis chikuadrat maka hasil tersebut sesuai hukum mendel
Dikatakan persilangan monohybrid karena yang terlibat dalam persilangan ini adalah kromosom autosom yaitu membawa sifat di sayapnya. Dimana sepia kromosomnya berada di nomor 3-26,0 dengan ciri ciri memiliki warna mata merah tua. Pada individu sepia mempunyai alel mutan pada matanya yang menyebabkan matanya berwarna merah tua, sedangkan individu normal mempunyai alel yang normal. Letak kedua alel tersebut berhubungan oleh sebab itu induk normal mewariskan gamet yang normal sedangkan individu sepia mewariskan gamet sepia  Pada persilangan monohybrid pada saat gametogenesis pasangan – pasangan kromosom akan saling bersegrasi ( memisahkan diri ) pada msing – masing gamet. Jadi jumlah kromosom gamet adalah setengah dari jumlah kromosom tubuh. Jika terjadi fertilisasi, masing – masing gamet akan berfusi membentuk individi diploid
Pada persilangan ini dikarenakan persilangan ini termasuk persilangan monohybrid maka berlaku hukum Mendel I. Hukum mendel ini berbunyi “ pada pembentukan gamet, gen yang merupakan pasangan akan disegregasikan ke dalam 2 sel anak “. Persilangan monohybrid memiliki ciri – ciri: (1) semua keturunan pertama yang dihasilkan sama. (2) Ketika keturunan pertam heterezigot membentuk gamet, terjadi pemisahan sel sehingga gamet memiliki satu alel sajaa, (3) jika ada dominasi sempurna, maka keturunan F1 memiliki fenotip seperti induk yang dominan, (4) menghasilkan perbandingan fenotip 3 :1
H.    KESIMPULAN.
1.      Pada persilangan antara sepia dengan normal merupakan persilangan monohybrid
2.      Hukum yang berlaku pada persilangan antara sepia dengan normal yaitu hukum Mendel I
3.      Persilangan ini sesuai hukum Mendel I karena hasil analisis chikuadrat dengan tabel chi kuadrat lebih kecil
4.      Dari hasil persilangan dihasilkan rasio  keturunan berfenotip norma : sepia 3 : 1
5.      Persilangan monohybrid menghasilkan semua keturunan pertamanya sama
6.      Keterunan pertama heterozigot membentuk gamet dan terjadi pemisaha  sel sehingga gamet memiliki satu sel saja
7.      Jika terjadi dominasi sempurna maka keurunan F1 memiliki fenotip seperti induk yang dominan

I.       DAFTAR PUSTAKA
Kiauw, Nio, Tjan. 1991. Genetika Dasar. Bogor : Institiut Teknologi Bogor

Sisunandar. 2017. Penuntun Praktikum Genetika. Purwokerto : Universitas Muhammadiyah Purwokerto


Wikipedia. 2017. Persilangan Monohibrid.
https://id.wikipedia.org/wiki/persilangan monohibrid. Diakses pada tanggal 12 Desember 2017





J.      LAMPIRAN
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar