LAPORAN PRAKTIKUM GENETIKA
PERSILANGAN MANDIRI

Di
susun oleh :
Nurdiana
Ismawati
1601070019
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO
2017
12
Desember 2017
A.
JUDUL
: PERSILANGAN MANDIRI
B.
TUJUAN
1. Untuk
mengetahui cara menyilangkan Drosophila
melanogaster
2. Untuk
menebak jenis persilangan pada Drosophila melanogaster
3. Untuk
mengetahui hukum yang berlaku pada persilangan drosophila melanogaster sepia
dan normal
C.
DASAR
TEORI
Penurunan sifat atau
hereditas paertama kali di populerkan oleh George Mandel atau yang biasa
disebut bapak genetika. Pada tahun 1857 Mendel melakukaneksperimen pertamnaya
menggunaka tanaman ercis dan berlangsung sampai tahun 1865. Hasil eksperimen
tersebut kemudian di tertbitkan dalam “ Proceedings of the Burn Society for
Natural Science “ ( Tjan Kiauw, 1991 ). Percobaan yang dilakukan mendel
menghasilkan dua hukum yaitu hukum Mendel I dan hukum Mendel II.
Mendel
melakukan percobaan persilangan
monohybrid atau persilangan satu sifat beda dengan menggunakan tanaman galur
murni, yaitu jenis dari satu generasi berikutnya dengan menghasilkan sifat yang
sama ( Sisunandar, 2017 ). Tujuan dilakukannya
persilangan monohybrid untuk mengetahui pola pewarisa dari yang tua ke generasi berikutnya. Hukum
persilangan monohybrid yaitu hukum Mendel I yang berbunyi “Pada pembentukan
gamet, gen yang merupakan pasangan akan di segregasikan ke dalam 2 sel anak”.
Persilangan Monohibrid
adalah persilangan antara dua individu dari spesies sama sengan satu sifat beda
(Wikipedia,2017). Persilangan monohybrid termasuk persilangan sederhan karena
hanya memperhatikan satu tanda beda. Pada persilangan monohybrid dihasilkan
perbandingan fenotip 3 : 1
Untuk menguji seberapa menyimpangnya hasil
pengamatan yang dibandingkan dengan angka yang diharapkan secara hipotesis
dilakukan dengan cara analisis chikuadrat. Dalam menggunakan analisis chi
kuadrat terdapat dua unsur yaitu :
a. Jumlah
yang diamati (ft): nila atau jumlah didapat dari hasil pengamatan
b. Jumlah
yang diharapkan (Ft): nilai atau jumlahnya didapat dari teoritis
Nilai dari analisis chikuadrat selalu
positif. Bentuk distribusinya tergantung pada derajat kebebasan dan digunakan
untuk :
a. Uji
kecocokan
b. Uji
kebebasan
c. Uji
beberapa prposi
Rumus
Ft
ft : jumlah individu yang
diamati
Ft : Jumlah individu yang
diharapkan
Dalam
genetika chikuadrat digunakan untuk menguji apakah data yang diperoleh dari
suatu percobaan sesuai sengan rasio yang diharapkan atau tidak. Dalam suatu
percobaan jarang sekali memperoleh hasil yang sesuai dengan yang diharapkan,
hampir selalu ada penyimpangan. Penyimpangan yang relative kecil lebih dapat
kurang diterima. Apabila penyimpangan sering terjadi dapat dikatakan semakin
normal dan cenderung lebih dapat diterima.
D.
ALAT
DAN BAHAN
a.
Alat
1. Cawan
petri
2. Botol
berpipet berisi eter
3. Botol
kultur dengan sumbu spons
4. Botol
eterisasi
5. Kuas
kecil
6. Sterofom
7. Botol
pembunuh berisi detergen
b.
Bahan
1. Drosophila melanogaster
jantan sepia dan betina normal
2. medium
E.
CARA
KERJA
1. Menyiapkan
dua galur Drosophila melanogaster
berfenotip jantan sepia dan normal
2. Memisahkan
20 jantan sepia ke medium baru kemudian
memasukan 20 betina virgin berfenotip normal ke medium tadi
3. Setelah
muncul pupa membunuh semua induknya
4. Setelah
pupa menetas mengambil minimal 20 pasang keturunan F1 dan memindahkannya ke
medium baru
5. Setelah
muncul pupa kemudian keluarkan induk dan membunuhnya
6. Menunggu
pupa menetas menjadi lalat dewasa sebagai F2
7. Setelah
pupa menetas hitung semua F2 yang dihasilkan minimal 200 ekor
F.
HASIL
PENGAMATAN
Parental : ♂ sepia
♀ normal
Persilangan Monohibrid
Perbandingan analisis chukuadrat
Ha : Data yang diperoleh mempunyai
rasio normal : sepia = 3 : 1
Ho : Data yang diperoleh tidak
mempunyai rasio normal : sepia = 3 : 1
|
|
Normal
•
|
Sepia
se
|
Jumlah
|
|
Jumlah individu
Yang diamati (ft)
|
148
|
57
|
205
|
|
Jumlah individu
yang diharapkan (Ft)
|
4
|
4
|
205
|
Derajat kebebasan (dk) = K – 1 = 2 –
1 = 1
Ft
153,75 51,25
153,75 51,25
153,5 51,25
=
33,06 + 99,18
=
0,86
Bagan
persilangan
Parental
: ♀ normal X ♂
sepia
G : + se
Se
P1 : + X +
F2 : + 3 +
= 3 normal
+
Se
Se 1 se = 1 sepia
Rasio
fenotip normal: sepia = 3 : 1
Rasio
genotip + : se
Kesimpulan
: jika dibandingkan dengan tabel
chikuadrat maka hasil tersebut lebih kecil dibandingkan dengan tabel, sehinga
menerima hipotesis nol pada taraf kepercayaan 95 % artinya persilangan tersebut
sesuai hukum mendel
G.
PEMBAHASAN
Berdasarkan dari hasil persilangan telah diketahui
bahwa persilangan antara jantan sepia dan betina normal adalah persilangan
monohybrid. Dari persilangan tersebut dihasilkan keturunan pertama berfenotip
normal semua dan keturunan kedua dihasilkan norma dan sepia dengan perbandingan
3: 1. Dimana perbandingan itu didapat dari jumlah individu yang diamati yaitu
205, 148 Drosophila melanogaster normal dan 27 drosophila sepia serta dengan
jumlah individu yang diharapkan 153,75 untuk fenotip normal dan 51,25 untuk
fenotip sepia. Kemudian dari data tersebut didapatkan analisis chikuadrat 0,86
dengan derajat kebebasan 1. Jika dibandingkan dibandingkan dengan analisis
chikuadrat maka hasil tersebut sesuai hukum mendel
Dikatakan persilangan monohybrid karena yang terlibat
dalam persilangan ini adalah kromosom autosom yaitu membawa sifat di sayapnya.
Dimana sepia kromosomnya berada di nomor 3-26,0 dengan ciri ciri memiliki warna
mata merah tua. Pada individu sepia mempunyai alel mutan pada matanya yang
menyebabkan matanya berwarna merah tua, sedangkan individu normal mempunyai
alel yang normal. Letak kedua alel tersebut berhubungan oleh sebab itu induk
normal mewariskan gamet yang normal sedangkan individu sepia mewariskan gamet
sepia Pada persilangan monohybrid pada
saat gametogenesis pasangan – pasangan kromosom akan saling bersegrasi (
memisahkan diri ) pada msing – masing gamet. Jadi jumlah kromosom gamet adalah
setengah dari jumlah kromosom tubuh. Jika terjadi fertilisasi, masing – masing
gamet akan berfusi membentuk individi diploid
Pada persilangan ini dikarenakan
persilangan ini termasuk persilangan monohybrid maka berlaku hukum Mendel I.
Hukum mendel ini berbunyi “ pada pembentukan gamet, gen yang merupakan pasangan
akan disegregasikan ke dalam 2 sel anak “. Persilangan monohybrid memiliki ciri
– ciri: (1) semua keturunan pertama yang dihasilkan sama. (2) Ketika keturunan
pertam heterezigot membentuk gamet, terjadi pemisahan sel sehingga gamet memiliki
satu alel sajaa, (3) jika ada dominasi sempurna, maka keturunan F1 memiliki
fenotip seperti induk yang dominan, (4) menghasilkan perbandingan fenotip 3 :1
H. KESIMPULAN.
1. Pada
persilangan antara sepia dengan normal merupakan persilangan monohybrid
2. Hukum
yang berlaku pada persilangan antara sepia dengan normal yaitu hukum Mendel I
3. Persilangan
ini sesuai hukum Mendel I karena hasil analisis chikuadrat dengan tabel chi
kuadrat lebih kecil
4. Dari
hasil persilangan dihasilkan rasio
keturunan berfenotip norma : sepia 3 : 1
5. Persilangan
monohybrid menghasilkan semua keturunan pertamanya sama
6. Keterunan
pertama heterozigot membentuk gamet dan terjadi pemisaha sel sehingga gamet memiliki satu sel saja
7. Jika
terjadi dominasi sempurna maka keurunan F1 memiliki fenotip seperti induk yang
dominan
I. DAFTAR PUSTAKA
Kiauw,
Nio, Tjan. 1991. Genetika Dasar.
Bogor : Institiut Teknologi Bogor
Sisunandar. 2017. Penuntun Praktikum Genetika. Purwokerto
: Universitas Muhammadiyah Purwokerto
Wikipedia.
2017. Persilangan Monohibrid.
https://id.wikipedia.org/wiki/persilangan monohibrid.
Diakses pada tanggal 12 Desember 2017
J. LAMPIRAN

Tidak ada komentar:
Posting Komentar